Teknologi Pengobatan 'ADC' Menjadi Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin

Home / Gaya Hidup / Teknologi Pengobatan 'ADC' Menjadi Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin
Teknologi Pengobatan 'ADC' Menjadi Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin DR. Tubagus Djumhana saat menjelaskan materi Antibody Drug Conjugate (ADC) saat seminar berlangsung. (FOTO: Edi Junaidi Ds/TIMES Indonesia)

TIMESBANTEN, JAKARTA – Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) bekerjasama dengan Persatuan Hematologi-Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) dan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centere (MRCCC) serta Takeda Indonesia, menggelar Seminar Media 'Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin dengan Terapi Inovatif' di Ruang Singapore Lantai 11,Raffles Hotel Jakarta, Rabu (12/11/2019).

Ada lima narasumber yang dihadirkan dalam acara seminar ini, diantaranya, Dr.dr. Tubagus Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM, FINASIM (Ketua PHTDI dan PERHOMPEDIN) juga Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid (Spesialis Hematologi Onkologi Medik FK-UI RSCM) dan dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed (Direktur MRCCC Siloam Hospital Semanggi) kemudian yang ke empat adalah Idham Hamzah (Presiden Direktur Takeda Indonesia) serta yang terakhir Intan Khasanah (Survivor Kanker Limfoma Hodgkin).

Antibody-Drug-Conjugate-2.jpgPara Narasumber saat memaparkan materi Antibody Drug Conjugate (ADC) di Hotel Ruffles Jakarta (Edi Junaidi Ds/TIMES Indonesia)

Diskusi ini adalah sebuah diskusi kesehatan yang membahas tentang perkembangan teknologi pengobatan inovatif untuk Antibody Drug Conjugate (ADC) yang dinilai sangat memberikan harapan baru dalam bidang onkologi.

Menurut DR. Tubagus Djumhana, ADC ini murupakan alternatif baru yang dinilai dapat meningkatkan harapan baru bagi hidup pasien kanker Limfoma Hodgkin (kelenjar getah bening) yang mengalami kekambuhan. 

"Pengobatan ini merupakan salah satu bagian dari manajemen tatalaksana kekambuhan non transplantasi dalam bentuk targeted therapy yang menggabungkan monoclonal antibody dan zat sitotoksik serta mampu secara spesifik mengenali dan membunuh sel kanker," tutur DR. Tubagus Djumhana kepada para awak media dan para peserta yang hadir.

Antibody-Drug-Conjugate-3.jpg

Tubagus menjelaskan, kanker Limfoma Hodgkin merupakan penyakit menyerang kelenjar getah bening yang terletak di leher dan kepala. Berdasarkan data Globocan 2018 lalu, ada 79.990 kasus baru dengan 26.167 kematian pada tahun 2018 di seluruh dunia.

Menurutnya, di Indonesia terdapat 1.047 kasus baru dan 574 orang meninggal pada tahun 2018. Insiden Limfoma Hodgkin biasanya memiliki dua puncak yaitu pada saat usia dewasa muda (20-24 tahun) dan lanjut usia (75-79 tahun).

Dalam kesempatan ini, Intan Khasanah selaku seorang survivor kanker Limfoma Hodgkin menceritakan pengalamannya dalam melawan kanker Limfoma Hodgkin.

"Perjalanan penyakit saya berawal tahun 2013, bermula dari sakit demam tinggi dan muncul benjolan kecil di leher awalnya mengira hanya sakit TBC, sehingga kondisi saya semakin memburuk. Benjolan di leher membesar dan sesak di dada, terasa lemas, dan kelelahan ekstrim. Setelah dilakukan pengangkatan benjolan di leher, diagnosa saya akhirnya ditegakkan bahwa saya terkena kanker Limfoma Hodgkin Stadium 4," kata Intan Khasanah selaku seorang survivor kanker Limfoma Hodgkin. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com